Banjir Mentawir Dipicu Pendangkalan Hulu Sungai, Penyempitan di Muara, Usulan Normalisasi Belum Mendapat Respons dari Instansi Terkait

Ikuti kami untuk mendapatkan Berita Aktual lainnya

Mediaakurat.org, Sepaku, Mentawir,- Banjir merendam sejumlah wilayah di Kelurahan Mentawir, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Kamis (8/1/2026) dini hari. Sedikitnya 54 rumah warga di tiga RT terdampak akibat luapan sungai setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur kawasan tersebut.

Dihubungi dari Balikpapan, Lurah Mentawir Nelva Susanti memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir tersebut. “Alhamdulillah tidak ada korban, saat ini aktivitas warga sudah pulih. Ini memang banjir musiman setiap akhir dan awal tahun,” kata Nelva, Jumat (9/1/2026) sore.

Meski bersifat musiman, Nelva menyebut banjir kali ini merupakan yang terbesar dalam 26 tahun terakhir ia tinggal di Mentawir. Berdasarkan catatan pihak kelurahan, terdapat 50 lebih rumah yang terdampak, di mana 15 rumah sempat terendam banjir, sementara rumah lainnya air hanya sudah mencapai kolong rumah warga.

“Rumah yang terendam seluruhnya berada dekat sungai. Ketinggian air saat banjir sempat mencapai 1,5 hingga 2 meter,” ujar Nelva.

Ia menduga banjir parah kali ini dipicu pendangkalan di hulu sungai serta penyempitan di muara. Pihak kelurahan, kata Nelva, telah beberapa kali mengusulkan normalisasi sungai kepada dinas terkait.

“Namun UPT tidak memiliki alat yang memadai untuk pengerukan sungai, sehingga normalisasi belum terealisasi sampai sekarang,” katanya.

Badan Penanggulangan Daerah (DPBD) Kabupaten PPU  mencatat 147 Jiwa Terdampak Banjir Mentawir, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara, M. Sukadi Kuncoro, mengatakan rumah terdampak tersebar di RT 01, RT 02, dan RT 03 Kelurahan Mentawir ini masuk kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Banjir terjadi akibat hujan sedang hingga hujan lebat yang berlangsung cukup lama sehingga menyebabkan daerah aliran sungai meluap dan air luapan masuk ke permukiman warga, terutama yang berada di dataran rendah dan bantaran sungai,” kata Sukadi Kuncoro.

Berdasarkan laporan pemantauan DPBD PPU, banjir terjadi sekitar pukul 03.00 WITA. Laporan resmi diterima Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD PPU pada pukul 09.15 WITA di hari yang sama.

Sukadi menjelaskan, hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak Rabu (7/1/2026) sekitar pukul 17.00 WITA hingga Kamis (8/1/2026) pukul 06.00 WITA. Kondisi itu menyebabkan debit sungai meningkat dan meluap ke permukiman warga.

Ia menambahkan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini secara berturut-turut pada Rabu (7/1/2026) pukul 17.45 WITA, 20.15 WITA, dan 21.15 WITA terkait potensi hujan sedang hingga hujan lebat yang dapat disertai kilat, petir dan angin kencang di wilayah Sepaku dan sekitarnya.

Data BPBD PPU mencatat, di RT 01 terdapat 9 rumah terdampak dengan 9 kepala keluarga (KK) atau 25 jiwa. Di RT 02, banjir merendam 42 rumah yang dihuni 42 KK atau 108 jiwa. Sedangkan di RT 03, terdapat tiga rumah terdampak dengan tiga KK atau 14 jiwa. Total rumah terdampak mencapai 54 unit dengan 147 jiwa.

“Pada saat kejadian, tinggi permukaan air di halaman rumah warga berkisar antara 50 hingga 80 sentimeter, sedangkan di dalam rumah sekitar 10 sampai 15 sentimeter,” ujar Sukadi.

Ia memastikan, kondisi banjir saat ini telah berangsur surut. Meski demikian, BPBD PPU tetap melakukan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan hujan susulan. “Secara umum, kondisi terkini tinggi muka air di wilayah terdampak sudah mulai surut,” lapornya.

Dalam penanganan awal, BPBD PPU mengerahkan tim ke lokasi untuk memantau kondisi tinggi muka air, berkoordinasi dengan unsur terkait, sekaligus menyerahkan bantuan logistik secara simbolis kepada pihak Kelurahan Mentawir untuk disalurkan kepada warga terdampak.

“Kami juga berkoordinasi dengan Otorita IKN terkait rencana usulan normalisasi Sungai Mentawir sebagai langkah penanganan ke depan,” kata Sukadi.

Penanganan di lapangan melibatkan BPBD PPU, Otorita IKN, Babinsa, Babinkamtibmas, relawan, serta warga setempat. BPBD PPU menurunkan tiga unit mobil operasional beserta peralatan penanggulangan bencana, sementara Otorita IKN mengerahkan satu unit mobil operasional.

Minimnya penanganan terhadap bencana banjir di Kelurahan Mentawir sempat disorot oleh LSM Guntur di pimpin Kasim Assegaf dan LSM KP LISOS pimpinan Rusdi, pihak LSM menyebut  OIKN terkesan tak begitu Perduli terhadap bencana banji Mentawir,” disaat warga terkena dampak Banjir mereka hanya  mengirim 1 unit mobil operasional, sementara gelegar pembangunan IKN membahana ke seantero Nusantara,” tukas Rusdi (Redaksi)