Mediaakurat.org, Tigaraksa,— RSUD Tigaraksa mengimbau masyarakat untuk mengenali dan mewaspadai penyakit virus hanta, yaitu penyakit zoonosis yang dapat menular dari hewan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh hantavirus yang umumnya dibawa oleh tikus dan hewan pengerat lainnya. Penularan dapat terjadi ketika seseorang menghirup partikel debu yang terkontaminasi urine, kotoran, atau air liur tikus, maupun saat menyentuh benda yang terkontaminasi kemudian menyentuh wajah tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Meskipun kasus di Indonesia masih relatif jarang ditemukan, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan sebagai langkah pencegahan.
Hantavirus dapat menyebabkan dua jenis penyakit utama pada manusia. Jenis pertama adalah Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang dapat menyerang ginjal. Gejalanya antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, tubuh terasa lemas, mual, muntah, hingga gangguan fungsi ginjal. Pada beberapa kasus dapat ditemukan perdarahan dan kulit atau mata tampak menguning. Masa inkubasi umumnya berkisar berkisar 1 hingga 2 minggu. Masa inkubasi adalah rentang waktu sejak virus masuk ke dalam tubuh hingga gejala mulai muncul. Tingkat keparahan penyakit bervariasi,dengan angka kematian 5 – 15 tergantung jenis virus dan kecepatan penanganan.
Jenis kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan dapat berkembang menjadi kondisi serius. Gejalanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, batuk, serta sesak napas yang semakin memberat. Masa inkubasi HPS umunya berkisar 1 hingga 8 minggu setelah seseorang terpapar virus. Jenis ini memiliki risiko kematian yang lebih tinggi, terutama bila tidak segera mendapatakan penanganan medis dengan tingkat kematian sekitar 60 persen.
Untuk mencegah penularan hantavirus, masyarakat dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area yang terdapat kotoran tikus.
- Menghindari kontak langsung dengan tikus dan kotorannya.
- Menutup lubang atau celah rumah agar tikus tidak masuk.
- Menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja.
- Membersihkan jejak tikus dengan metode pel basah atau disinfektankan agar debu tidak beterbangan.
- Menyimpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup.
Masyarakat juga perlu berhati-hati saat melakukan aktivitas di alam terbuka, seperti berkemah atau pendakian, terutama di area yang banyak ditemukan tikus atau hewan pengerat . Bagi pelaku perjalanan luar negeri, penting untuk mematuhi anjuran kesehatan di negara tujuan.
Apabila mengalami gejala yang mengarah pada infeksi hantavirus, terutama setelah kontak dengan tikus atau berada pada lingkungan yang berisiko, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat agar mendapatkan penanganan sedini mungkin.
RSUD Tigaraksa mengajak seluruh masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan keberadaan tikus, dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat merupakan langkah sederhana namun efektif untuk mencegah penyakit hantavirus.Sitinurjanah
Kenali gejalanya, cegah penularannya, dan lindungi keluarga dari risiko penyakit ini.
Sumber: Surat Edaran Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta Kementerian Kesehatan Tahun 2026.












